Penghulu fakist harus menjawab pertanyaan-pertanyaan tidak penting untuk memberlakukan kartu identitas warganya yang disebut INAFIS. Kartu ini benar-benar berbasis jatidiri, sehingga warga dapat ditempatkan pada zona yang tepat. Saling meridhoi, tidak perlu ada yang terluka, apalagi saling melukai. Makom seseorang telah diatur oleh sang maha pengatur hidup dan kehidupan ini, siapa menjadi apa sudah ditulis lima ratus tahun sebelum kejadian. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana menyadari bahwa hidup ini tidak bisa dipilih, diminta, apalagi ditolak. Kesadaran menjalani setiap posisi merupakan cara menjaga keselarasan jagad kecil dalam jagad besar, sebuah jalan keiklasan menapaki tangga makrifat.
Penghulu fakist benar-benar berhati-hati dalam menjalankan keputusannya, menilik pengalaman yang telah lalu, menyebabkan dia lebih matang dalam bertindak. Simak saja pengalaman pahit yang ditorehkan oleh snock horgronye, sang snock berhasil memisahkan syariat dari hakekatnya. Sang pahlawan multatuli, di dalam dia menjadi penghianat sebaliknya di luar dia menjadi pahlawan. Seorang yang gentleman, sebut saja syeh nawawi, setelah tak sanggup memadukan ajaran muhammad dan uwaysi, dia kembali ke kelompoknya di mekah. Yang tetap tinggal adalah para wali, itulah cikal bakal penduduk negeri fakir, yang terus dihujat sehingga negeri itu serasa kiamat.
Fakist menetapkan, bahwa basis kampung MakWah adalah kesaktian. Bagaimana tidak? Kampung MakWah adalah hutan beton dan lautan plasik, tak ada sumber hidup dan kehidupan. Memulai sesuatu dari yang mati menjadi hidup, tak ada jalan lain kecuali dibutuhkan kesaktian. Jadi, kesaktian itu bukan diadakan tapi memang dibutuhkan.
Menyatukan waktu bukan karena pasar modal, mengingat di kapung MakWah tidak ada modal. Kitab MakWah tidak mengenal falas, karena kata itu menjadi perigatan bagi mereka: awas salaf.
Maka INAFIS akan menentukan zona dimana warga tinggal, zona jawara, zona teknokrat, zona birokrat, atau zona rakyat, fakist bermakom, supaya keruwetan tidak terjadi. Perpindahan zona hanya cukup memberikan tanda dimana mereka berada. Menarik untuk dicermati, bahwa penggunaan INAFIS sangat tepat untuk dipilih, terutama untuk alasan hukuman.
Hukuman ringan bagi generasi penerus, adalah ditandai kartu INAFISnya, dikirim ke pedalaman supaya hidupnya bener. Hukuman untuk orang yang melakukan kesalahan karena tidak sanggup menahan diri dengan alasan kepepet, diwajibkan mengikuti program transmigrasi, mengolah lahan kosong yang subur. Hukuman terberat diberikan kepada yang rakus dan kelompok yang berusaha merubah keyakinan yang berlaku sebagai landasan kampung MakWah. Pada kelompok ini, bukan saja INAFISnya yang dicabut, tetapi sekaligus teknik penguncian bathin diberlakukan. Kelompok terakhir akan berada di lokasi perbatasan, tanpa identitas, hidup seperti film "In the Middle of Know Where"
Golok salungkar tidak perlu menjadi asmal, karena langit tidak berkenan, cukup menjadikan mereka keder......
Indanya hidup di tanah MakWah......
Tanpa pertumpahan darah.....
Tuhan pasti bilang.....eMAK....bilang ....apa...WAH.......
Tuhan mah bisa eun....moal kataekan dina mlaikat......
Wkwkwk
Rabu, 25 April 2012
Penghulu Fakist Menyusun Peruntukan Kampung
Sejarah telah mengajarkan kepada fakist, bahwa kewaspadaan tetap harus dilakukan untuk dapat hidup tenang, tentram, dan adem ayem. Bagaimana tidak, dengan berdalih go international, dengan alasan globalisasi, fakist harus kehilangan kampungnya, terseok-seok tak tentu arah tujuan, dan berakhir dengan kehilangan martabat. Kampung fakir tak ada lagi dalam percaturan dunia, menghilang.
Di kampung baru ini, kampung MakWah, penghulu fakist menerapkan aturan baru yang benar-benar bertujuan untuk melindungi ketenteraman warga fakist dari rong-rongan dan campur tangan asing. Susunan kampung dibuat benar-benar berlapis, sesuai dengan isi hati atau keinginan warganya. Dimulai dari dalam, tempat penghulu fakist, jawara, warga pedalaman, teknokrat, birokrat, warga kampung penamping, kampung warga yang melanggar aturan adat tingkat pelajar, pelanggar tingkat kebutuhan, pelanggar tingkat rakus, pendatang, dan terakhir orang asing. Pengelompokan ini sesuai dengan protap screening yang dilakukan oleh penghulu fakist sendiri, karena penghulu fakist adalah titisan dewa.
Tempat paling dalam, dan paling sakral adalah tempat penghulu fakist. Dikatakan paLING SAKRAL (eLING, klARAS= atap, bagian paling tinggi dan menghadap ke bawah, adalah ARS) karenanya di tangan penghulu fakist semua aral dapat disingkirkan. Selanjutnya, di lapis kedua adalah para wara, orang yang mampu menahan diri, ditangan mereka golok salungkar tidak akan melukai, tapi yoninya bisa menghipnotis. Lapis ke tiga dihuni oleh warga yang patuh pada leluhur, dan tidak silau dengan perkembangan jaman. Selanjutnya dihuni oleh para teknokrat yang bertugas mensejahterakan warganya sesuai dengan undang-undang yang berlaku di kampung fakist yang telah ditetapkan oleh founding father dan telah dilaksanakan secara turun-temurun, yang kemurniannya dijaga oleh penghulu fakist. Pada lapis kelima, para biroktat berdiam, tugasnya menjembatani keinginan warga luar untuk ikut merasakan kedamaian yang dipancarkan oleh yang di dalam. Pada lapis ke enam, adalah penjara bagi usia anak, diharapkan latihan dan pelatihan di tempat ini dapat menyadarkan dan meluruskan kembali keingintahuan mereka yang menyimpang dari adat. Lapis ke tujuh dihuni oleh para pelanggar adat karena kebutuhan dasar, yaitu fakist yang tidak dapat menahan nafsunya. Lapis ke delapan dipersiapkan bagi mereka yang rakus, angkara murka, dan lebih banyak mudharatnya jika dilakukan pembinaan, lebih tepatnya yang bertujuan melakukan kesalahan kembali seperti yang pernah dilakukan di kampung fakir, yang menyebabkan kerajaan fakir tersingkir. Terakhir adalah warga luar yang hendak berkunjung, ngalap berkah kampung MAKWAH....mereka hanya diperkenankan bertamu, tidak lebih.....
Maaf,
Jangan salahkan jika langkah ini ditempuh,
Penghulu fakist tidak ingin MakWah tergadai,
Atau dijual oleh fakir yang silau dengan yang di luar, dan rakus,
Kampung fakir telah terjual kepada developer,
Penghulu fakist harus melindungi Kampung MakWah dan menjaga ketenteraman fakist.
Penghulu fakist sadar, fakist adalah tanggung jawabnya,
Mereka lahir sebagai fakist,
Dan seharusnya tinggal di kampung fakist,
Inilah piring fakist.....
Yang lain?....
Mang gue pikirin,
Mereka punya negara sendiri...
Kebangsaan sendiri....
Bahasa sendiri....
Cara hidup sendiri.....
Ya ....biar mengurus dirinya sendiri.......
Penghulu fakist tidak takut di embargo?...
Bagus itu.....
Lebih cepat lebih baik....
Karena Mak Wah adalah kapal Nuh,.....
Di kampung baru ini, kampung MakWah, penghulu fakist menerapkan aturan baru yang benar-benar bertujuan untuk melindungi ketenteraman warga fakist dari rong-rongan dan campur tangan asing. Susunan kampung dibuat benar-benar berlapis, sesuai dengan isi hati atau keinginan warganya. Dimulai dari dalam, tempat penghulu fakist, jawara, warga pedalaman, teknokrat, birokrat, warga kampung penamping, kampung warga yang melanggar aturan adat tingkat pelajar, pelanggar tingkat kebutuhan, pelanggar tingkat rakus, pendatang, dan terakhir orang asing. Pengelompokan ini sesuai dengan protap screening yang dilakukan oleh penghulu fakist sendiri, karena penghulu fakist adalah titisan dewa.
Tempat paling dalam, dan paling sakral adalah tempat penghulu fakist. Dikatakan paLING SAKRAL (eLING, klARAS= atap, bagian paling tinggi dan menghadap ke bawah, adalah ARS) karenanya di tangan penghulu fakist semua aral dapat disingkirkan. Selanjutnya, di lapis kedua adalah para wara, orang yang mampu menahan diri, ditangan mereka golok salungkar tidak akan melukai, tapi yoninya bisa menghipnotis. Lapis ke tiga dihuni oleh warga yang patuh pada leluhur, dan tidak silau dengan perkembangan jaman. Selanjutnya dihuni oleh para teknokrat yang bertugas mensejahterakan warganya sesuai dengan undang-undang yang berlaku di kampung fakist yang telah ditetapkan oleh founding father dan telah dilaksanakan secara turun-temurun, yang kemurniannya dijaga oleh penghulu fakist. Pada lapis kelima, para biroktat berdiam, tugasnya menjembatani keinginan warga luar untuk ikut merasakan kedamaian yang dipancarkan oleh yang di dalam. Pada lapis ke enam, adalah penjara bagi usia anak, diharapkan latihan dan pelatihan di tempat ini dapat menyadarkan dan meluruskan kembali keingintahuan mereka yang menyimpang dari adat. Lapis ke tujuh dihuni oleh para pelanggar adat karena kebutuhan dasar, yaitu fakist yang tidak dapat menahan nafsunya. Lapis ke delapan dipersiapkan bagi mereka yang rakus, angkara murka, dan lebih banyak mudharatnya jika dilakukan pembinaan, lebih tepatnya yang bertujuan melakukan kesalahan kembali seperti yang pernah dilakukan di kampung fakir, yang menyebabkan kerajaan fakir tersingkir. Terakhir adalah warga luar yang hendak berkunjung, ngalap berkah kampung MAKWAH....mereka hanya diperkenankan bertamu, tidak lebih.....
Maaf,
Jangan salahkan jika langkah ini ditempuh,
Penghulu fakist tidak ingin MakWah tergadai,
Atau dijual oleh fakir yang silau dengan yang di luar, dan rakus,
Kampung fakir telah terjual kepada developer,
Penghulu fakist harus melindungi Kampung MakWah dan menjaga ketenteraman fakist.
Penghulu fakist sadar, fakist adalah tanggung jawabnya,
Mereka lahir sebagai fakist,
Dan seharusnya tinggal di kampung fakist,
Inilah piring fakist.....
Yang lain?....
Mang gue pikirin,
Mereka punya negara sendiri...
Kebangsaan sendiri....
Bahasa sendiri....
Cara hidup sendiri.....
Ya ....biar mengurus dirinya sendiri.......
Penghulu fakist tidak takut di embargo?...
Bagus itu.....
Lebih cepat lebih baik....
Karena Mak Wah adalah kapal Nuh,.....
Minggu, 22 April 2012
Pembukaan Lahan Baru" LUMPUR LAPINDO"
Setelah suasana kondusif tercapai, peghulu fakist membuka obrolan ringan untuk me.nyatukan irama gerak pembukaan lahan yang telah di tetapkan waktunya. Supaya perjalanan dan menjalankan roda kehidupan di negeri yang baru ini mendapat restu dari Gusti Pangeran, maka mereka melakukan ritual penting, yaitu saling memaafkan.
Pertama, Penghulu fakist mengajak warganya meminta maaf kepada njeng rasul karena beliau harus berperan sebagai nabi akhir jaman, lebih tepatnya menjadi nabi yang mengakhiri jaman. Dikatakan mengakhiri jaman, ya memang benar adanya, karena ditangan umat beliaulah jaman ini berakhir. Hanya di jaman njeng rasul CELANA JEANS (CELANA = CELAAN, JEANS =JIN) mendunia. Mengapa celaan jin mendunia karena manusia telah melakukan RIBA (RIBA ,RAIB, RImBA). Bagaimana mungkin mereka melakukanya padahal mereka mengetahui dan mempunyai petunjuk? Namanya juga petunjuk, setelah ditunjukkan apakah yang meminta petunjuk menemukan apa yang dicari, tidak dijamin..... seperti lagunya Ayu Ting Ting......"Kesana kemari membawa alamat.....jreng...jreng.....
Yang jadi pokok persoalan adalah mengapa mereka tidak menemukan?
Jawabnya adalah mereka mempunyai itikad tidak baik, maka sesuai dengan protap, dikunci hatinya....supaya keder.....
"Lho kok bisa begitu?"
"Coba perhatikan, jika mereka melakukan amalan bersama maka akan dilipat gandakan ....."
"Apakah itu pasalnya?"
"Ya...."
"Ya kalau melakukan satu pastinya kan dapatnya satu, kalau melakukan bersama bisa dipercepat, karena bisa jadi pada kesempatan tersebut ada salah satu yang frekwensinya sambung.....hanya itu...."
"Hasilnya....?"
"Ya itu.....satu dilipat menjadi dua puluh tujuh, jika terus dilipatkan, kan makin banyak....?"
"Terus....?"
"Kelipatan tersebut berbanding terbalik dengan waktu....."
"Oooo.....itu masalahnya......
Pidato penghulu fakir, mengingatkan fakist untuk tidak mengulangi apa yang telah dilakukan di kampung fakir.
"Eling...LUMPUR LAPINDO.....Loe...harus....bertempur..."
"Jangan sampai kena pasal: lapo....kok di pindo.....?"
WKwKWk.......
Pertama, Penghulu fakist mengajak warganya meminta maaf kepada njeng rasul karena beliau harus berperan sebagai nabi akhir jaman, lebih tepatnya menjadi nabi yang mengakhiri jaman. Dikatakan mengakhiri jaman, ya memang benar adanya, karena ditangan umat beliaulah jaman ini berakhir. Hanya di jaman njeng rasul CELANA JEANS (CELANA = CELAAN, JEANS =JIN) mendunia. Mengapa celaan jin mendunia karena manusia telah melakukan RIBA (RIBA ,RAIB, RImBA). Bagaimana mungkin mereka melakukanya padahal mereka mengetahui dan mempunyai petunjuk? Namanya juga petunjuk, setelah ditunjukkan apakah yang meminta petunjuk menemukan apa yang dicari, tidak dijamin..... seperti lagunya Ayu Ting Ting......"Kesana kemari membawa alamat.....jreng...jreng.....
Yang jadi pokok persoalan adalah mengapa mereka tidak menemukan?
Jawabnya adalah mereka mempunyai itikad tidak baik, maka sesuai dengan protap, dikunci hatinya....supaya keder.....
"Lho kok bisa begitu?"
"Coba perhatikan, jika mereka melakukan amalan bersama maka akan dilipat gandakan ....."
"Apakah itu pasalnya?"
"Ya...."
"Ya kalau melakukan satu pastinya kan dapatnya satu, kalau melakukan bersama bisa dipercepat, karena bisa jadi pada kesempatan tersebut ada salah satu yang frekwensinya sambung.....hanya itu...."
"Hasilnya....?"
"Ya itu.....satu dilipat menjadi dua puluh tujuh, jika terus dilipatkan, kan makin banyak....?"
"Terus....?"
"Kelipatan tersebut berbanding terbalik dengan waktu....."
"Oooo.....itu masalahnya......
Pidato penghulu fakir, mengingatkan fakist untuk tidak mengulangi apa yang telah dilakukan di kampung fakir.
"Eling...LUMPUR LAPINDO.....Loe...harus....bertempur..."
"Jangan sampai kena pasal: lapo....kok di pindo.....?"
WKwKWk.......
MAKWAH...negeri baru fakist
Inilah negeri baru bagi fakist. Sebuah negeri mirip bantar gebang, hamparan yang betul-betul terbuka. Dihadapan mereka para fakist hanyalah onggokan sampah dari bumi, dan sengatan matahari langsung. Mother board mereka adalah SURGA, maka sesuai dengan protap langkah yang harus dilakukan adalah GASRUk ae, lakukan tanpa mikir. Jika dalam olah raga loncat indah ditentukan oleh seberapa mampu peloncat menaklukkan faktor kesulitan, maka teori itu sekarang berlaku dan diberlakukan.
Melincat indah di air, itu sudah sulit, tantangan bagi fakist adalah meloncat indah di bantar gebang, di lautan sampah dengan sengatan terik matahari. Pertama penghulu fakist mengumpulkan negarawan yang tersisa sebagai motor penggerak, disebut motor penggerak ya memang dia bergerak. Hanya dan hanya jika motor penggerak bergerak maka semua fakist terakselerasi untuk bergerak. Semakin cepat gerakan motor, semakin cepat pula fakist bergerak.
Selanjutnya, sesuai dengan keahlian masing-masing, mereka bergerak, bekas tukang jagal mengambil posisi merancang keamanan, bekas petani harus berfikir untuk menyulap bantar gebang menjadi sumber hidup dan penghidupan mereka. Tukang cuci memilah sampah, seperti saat mereka memilah cucian. Tukang bangunan membuat gundukan dari apa saja yang tengahnya menyerupai kawah sehingga dapat menampung air hujan. Yang lain terus mengikuti irama pergerakan sang akselerator.
Penghulu fakist merancang ulang peta lokasi, ring satu, sampai ring sepuluh sesuai dengan angka nominal persepuluhan, untuk susunan kenegaraan supaya lebih dapat dikontrol dalam rangka menjaga kestabilan.
"Puas A?"....(dengan menggunakan logat pekalongan....)
Melincat indah di air, itu sudah sulit, tantangan bagi fakist adalah meloncat indah di bantar gebang, di lautan sampah dengan sengatan terik matahari. Pertama penghulu fakist mengumpulkan negarawan yang tersisa sebagai motor penggerak, disebut motor penggerak ya memang dia bergerak. Hanya dan hanya jika motor penggerak bergerak maka semua fakist terakselerasi untuk bergerak. Semakin cepat gerakan motor, semakin cepat pula fakist bergerak.
Selanjutnya, sesuai dengan keahlian masing-masing, mereka bergerak, bekas tukang jagal mengambil posisi merancang keamanan, bekas petani harus berfikir untuk menyulap bantar gebang menjadi sumber hidup dan penghidupan mereka. Tukang cuci memilah sampah, seperti saat mereka memilah cucian. Tukang bangunan membuat gundukan dari apa saja yang tengahnya menyerupai kawah sehingga dapat menampung air hujan. Yang lain terus mengikuti irama pergerakan sang akselerator.
Penghulu fakist merancang ulang peta lokasi, ring satu, sampai ring sepuluh sesuai dengan angka nominal persepuluhan, untuk susunan kenegaraan supaya lebih dapat dikontrol dalam rangka menjaga kestabilan.
"Puas A?"....(dengan menggunakan logat pekalongan....)
eMAK bilang WAH....
Ini adalah kampung baru bagi warga fakir. Entah siapa yang menjual tanah kampung fakir kepada developer, kenyataannya sekarang para fakir harus berkemas untuk pindah. Tanpa air mata atau sumpah serapah, fakist (mereka menyebut dirinya) mengemasi bekal yang cuman sebuah tanda bahwa mereka telah pernah tinggal di kampung fakir.
Kampung baru tersebut adalah kampung yang ditunjuk oleh penghulu fakir, sebut saja MAKWAH. Seperti apa bentuknya, fakist belum tahu dan tidak perlu memikirkannya karena fakist masih sibuk menata suasana bathin, terutama berusaha memastikan penghulu fakir tidak terluka.
Jagad memang sudah tak bersahabat lagi. Jika bumi dan langit pernah berseteru hebat demi menjaga hubungan cinta sepasang kekasih, yang menyebabkan keduanya hampir saja hancur lebur, maka sekarang keduanya bersatu kembali.
Bumi dan langit bersatu, melawan jagad besar dan jagad kecil. Sebuah perseteruan yang mungkin pertama dalam sejarah. Perseteruan ini tentu bukan tanpa sebab, tersingkirnya fakist dan penghulunya dari kampungnya merupakan pukulan telak terhadap sebuah kesetiaan.
"Tuhan ajarkan kepadaku bagaimana meenyamankan diri saat Ibrahim mengeksekusi Ismail, karena kunci sukses melaksanakan perintahmu adalah saat prosesi eksekusi"
Itu adalah sekelumit mantra yang terus bergetar dari dada fakist, selama menunggu keberangkatan mereka.
Mendengar mantra yang dibaca warganya, penghulu fakist berucap lirih: "eMAK bilang WAH....keren....."
Kampung baru tersebut adalah kampung yang ditunjuk oleh penghulu fakir, sebut saja MAKWAH. Seperti apa bentuknya, fakist belum tahu dan tidak perlu memikirkannya karena fakist masih sibuk menata suasana bathin, terutama berusaha memastikan penghulu fakir tidak terluka.
Jagad memang sudah tak bersahabat lagi. Jika bumi dan langit pernah berseteru hebat demi menjaga hubungan cinta sepasang kekasih, yang menyebabkan keduanya hampir saja hancur lebur, maka sekarang keduanya bersatu kembali.
Bumi dan langit bersatu, melawan jagad besar dan jagad kecil. Sebuah perseteruan yang mungkin pertama dalam sejarah. Perseteruan ini tentu bukan tanpa sebab, tersingkirnya fakist dan penghulunya dari kampungnya merupakan pukulan telak terhadap sebuah kesetiaan.
"Tuhan ajarkan kepadaku bagaimana meenyamankan diri saat Ibrahim mengeksekusi Ismail, karena kunci sukses melaksanakan perintahmu adalah saat prosesi eksekusi"
Itu adalah sekelumit mantra yang terus bergetar dari dada fakist, selama menunggu keberangkatan mereka.
Mendengar mantra yang dibaca warganya, penghulu fakist berucap lirih: "eMAK bilang WAH....keren....."
Kamis, 19 April 2012
私はまだ彼を愛して
|
私はまだ彼を愛して
火はロマンスを燃やし続けた.......
停止することができるようにされることなく....
すべて私の魂の凹部を貫通する、流れる...
涙が残ってなくても乾燥しています.....
全体の拷問を悩ませてきた....
私はまだ忘れることができません.....
彼との思い出を消去することができません... 私は迷ってしまいました.... それを残すために残って強度はありますか?.... |
Aku tetap mencintainya
Api asmara itu terus berkobar.......
Tanpa bisa dihentikan....
Mengalir deras, menembus seluruh relung jiwaku...
Air mata telah kering tanpa tersisa.....
seluruh siksa telah mendera....
Tetap saja aku tak dapat lupa.....
Tak sanggup menghapus kenangan bersamanya...
Aku kalah....
Masihkah ada kekuatan yang tersisa untuk meninggalkannya?....
|
Rabu, 18 April 2012
JANGAN TERTIPU OLEH IKLAN
Judul diatas ditulis besar-besar di setiap persimpangan jalan di kampung fakir. Tulisan ini sengaja dipasang di spanduk besar dan ditempatkan diseluruh persimpangan jalan, dengan menghabiskan dana miliaran rupiah uang kampung fakir, spanduk ini dibuat untuk mengingatkan warganya.
Inisiatif ini dari buku putih yang diterbitkan oleh percetakaan under ground kampung fakir. Terbongkarnya rahasia bahwa hukuman yang diberikan kepada iblis ternyata tidak lain dan tidak bukan adalah kebahagiaan. Disebut kebahagiaan, karena hanya iblis, makhluk langit yang mendapatkan tiket wisata ke seluruh jagad, dan abadi sampai nanti waktu yang ditentukan.
Yah...dalam kurun waktu miliaran tahun....malaikat-malaikat lainnya harus melakukan pekerjaan rutin, itu-itu saja, maka iblis, saat menunggu waktu berbangkit dapat melakukan banyak hal seputar travelingnya, melihat dan merasakan semua ciptaan Allah. Tidak seru kan, kalau bumbe jumping hanya dilihat dan diceritakan, karena di dalamnya terkandung rasa ekstasi puncak terpicunya adrenalin, dan itu hanya dapat dinikmati, oleh yang melakukan. Malaikat hanya melihat, mencatat, dan melaporkan. Sementara iblis mengajarkan, dan bersama-sama dengan manusia melakukannya.
Saat berbangkit kelak, malaikat, di rumahnya, yang disebut surga, hanya berharap dibawakan oleh-oleh..... seperti kolam susu, buah pisang, monyet, lebah,....dan sebagainya. Iblis hidup di dalam api....
Yang jadi masalah kan terminologinya.....kalau yang disebut api itu cahaya bagaimana.....?
Pasti kalimat yang terucap" kembalikan lagi aku ke dunia ......"
Suatu keniscayaan, seperti sekarang kita minta dikembalikan ke dalam perut ibu, ke alam kandungan....
Inisiatif ini dari buku putih yang diterbitkan oleh percetakaan under ground kampung fakir. Terbongkarnya rahasia bahwa hukuman yang diberikan kepada iblis ternyata tidak lain dan tidak bukan adalah kebahagiaan. Disebut kebahagiaan, karena hanya iblis, makhluk langit yang mendapatkan tiket wisata ke seluruh jagad, dan abadi sampai nanti waktu yang ditentukan.
Yah...dalam kurun waktu miliaran tahun....malaikat-malaikat lainnya harus melakukan pekerjaan rutin, itu-itu saja, maka iblis, saat menunggu waktu berbangkit dapat melakukan banyak hal seputar travelingnya, melihat dan merasakan semua ciptaan Allah. Tidak seru kan, kalau bumbe jumping hanya dilihat dan diceritakan, karena di dalamnya terkandung rasa ekstasi puncak terpicunya adrenalin, dan itu hanya dapat dinikmati, oleh yang melakukan. Malaikat hanya melihat, mencatat, dan melaporkan. Sementara iblis mengajarkan, dan bersama-sama dengan manusia melakukannya.
Saat berbangkit kelak, malaikat, di rumahnya, yang disebut surga, hanya berharap dibawakan oleh-oleh..... seperti kolam susu, buah pisang, monyet, lebah,....dan sebagainya. Iblis hidup di dalam api....
Yang jadi masalah kan terminologinya.....kalau yang disebut api itu cahaya bagaimana.....?
Pasti kalimat yang terucap" kembalikan lagi aku ke dunia ......"
Suatu keniscayaan, seperti sekarang kita minta dikembalikan ke dalam perut ibu, ke alam kandungan....
Langganan:
Postingan (Atom)