Sabtu, 02 Juni 2012

Kepala kampung juga manusia.....SERIOUS

Setelah sepakat meletakkan dasar perekonomian, ketua kampung negeri antah berantah mencoba bernostalgia bersama para punggawanya. Maka dikeluarkannya naskah proklamasi kemerdekaannya. Seingatnya, hampir tidak pernah naskah tersebut dia buka, sehingga pembukaan naskah tersebut membuat suasana hening, semua yang hadir diam dan berharap terjadi keajaiban setelah apa yang menimpa negeri antah berantah.

Dengan mimik muka dibuat sok-sok serius, kepala kampung mencoba menggoda para punggawa yang selama ini melakukan siaga satu. Maka dibukalah kertas tersebut dengan berucap; dibantu ya...dibantu ya...(dengan meniru gaya pak tarno yang kocak). Maka terbukalah teks proklamasi yang asli pidato soekarno.
Walau dengan tujuan bercanda, ternyata kata-kata pak tarno tadi: dibantu ya...dibantu ya....benar-benar dibantu oleh semua komponen bangsa, yaitu bangsa manusia, bangsa jin, bangsa hewan, dan bangsa tumbuhan, semua ikut berdoa semoga aral yang menyebabkan negeri antah berantah krisi multi dimensi dapat ditemukan.

Setelah terbuka, benar saja, sesaat mata kepala kampung tertuju pada coretan pada naskah, dan yang di dalam berkata.....itulah pokok persoalannya. Sejurus kemudian pikirannya bertanya....ada apa dengan coretan tersebut....maka tangannya terus mengetik sebagai berikut:

Pada saat keosno berkontemplasi di bawah sukun, sesungguhnya koesno hanyalah saksi aku dan allah sedang berdiskusi memberi penyelesaian terhadap kejadian yang menimpa pertiwi selama tiga ratus lima puluh tahun. Maka rumusan pancasila sesungguhnya yang membuat bukan si koesno, tapi aku dan allah bekerja sama, koesno sebagai juru tulis saja.
Lalu? apa hubungannya dengan naskah proklamasi yang dicoret?
Pertanyaan cerdas....
Pada saat sila ketuhanan di letakkan di nomer satu.
Coba jelaskeun lebih detail....can ketaekan dina abdi...punteun nya....
Aku mau tanya.....
Sebenarnya sila ketuhanan diletakkan di atas apa di bawah?
Sila ke satu apa ke lima?
Aku tidak tahu.....
Ayolah....pakai cara kampung MAKWAH...
Sila ketuhanan sebaiknya diletakkan di nomer lima, di bawah.
Alasannya?
Ya...ini juga pakai cara fakist lho ya....supaya heureuy...
SILA KE LIMA sebagai sepatu, penutup kaki, ukurannya ya disesuaikan dengan yang empunya kaki. Silahkan pakai merek apa saja yang penting nyaman untuk dipakai. Kalau keluar kan dipakai, kalau di dalam, terutama waktu tidur kan tidak pakai sepatu.
Bener... pinter...
Kalau SILA KE SATU, sebaiknya keadilan sosial bagi seluruh rakyat, ditaruh di atas, atas kan lambang kepala.
Maksudnya?
Keadilan itu kan relatif, ukuran manusia, relativitasnya disesuaikan dengan kesepakatan bersama, musyawarah untuk mufakat, makanya ada MPR.

Terus hubungannya dengan naskah proklamasi yang dicoret?
Ya... itu tadi, ketuker.....
Makanya takdirnya di tunda....
Tahu dari mana.....
Kan kalimatku berbunyi....AKU TITIPKAN NEGERI INI KEPADA KALIAN....
tembung titip... kan nanti kalau waktunya tiba harus dikembalikan....untuk disempurnakan....
BLAI SLAMET.....
MET''''MMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMEt......

Lha kalau pas seperti kata njeng rasul; Aku tinggalkan.....
kan ga lucu.....
bisa end temenan negeri ini....
kena JAS

Yo wis...
sing penting podho ngerti....
adem ayem.....
urip tentrem....

sing tanda tangan siji....
sopo.....
NOERMALIKA
Yo apik ko artine....
noer ....cahaya....
malika....yang memiliki....
utowo...
noemal....stabil..
ka......temenan ta?????

wkwkwkkwk
edyannnnnn.....
tuwas... aku serius.....

eh...tapi ngomong-ngomong kalau emang bener caranya bagaimana?
Gak perlu dirubah naskahnya....
terus?
Kan aku punya jurus....
apaan....
memindahkan langit dan bumi....

tambah gendeng.....
lho ojo nyebut-nyebut ki gendeng pamungkas....
ngo dekne tangi.....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar